Jumat, 05 Oktober 2012

ayam putih peliharaan Alloh Swt dan Rasulullah

Ayam jago Putih
Ayam adalah salah satu hewan yang mempunyai kelebihan istimewa seperti Ayam cemani dan ayam putih ,kalau Ayam cemani sering di gunakan untuk ritual Ilmu Hitam ritual pesugihan dan merupakan salah satu Syarat Utama atau pokok suatu ritual tertentu dan Ayam Cemani atau ayam hitam cenderung di gunakan untuk hal-hal yang Kurang baik , sebaliknya Kalau  Ayam Jago Putih malah bisa untuk mengusir gangguan dari ilmu hitam dan kejahatan,
Ayam Jago Putih juga merupakan Hewan kesayangan Rosululloh SAW sesuai Hadist – hadist Rosululloh SAW , Para Ulama’ -Ulama Ahli Tajrib ( Ulama Khos pada jaman dahulu ) bermufakat Bahwa Ayam Jago Putih ^ salah satu khasiatnya ialah dapat menjaga rumah dan Penghuninya serta Isi Rumahnya dari gangguan Jin, Ilmu Hitam, Pencuri, Kebakaran ,dan mereka para Ulama Tajrib menjamin apabila anda menyembelih ayam jago putih ( Untuk Acara selamatan/ Syukuran ) maka anda sekeluarga akan di selamatkan oleh Alloh s.wt dari segala macam mara bahaya baik pada keluarganya maupun hartanya.
Hadist di bawah ini hadist sohih yang diriwayatkan oleh Abdul Haq bin qoni’ dengan isnadnya sampai pada Jabir binAtswab bin ‘Atabah bahwa sesungguhnya Rosulalloh saw bersabda :
” AD-DIIKU AL- ABYADU KHOLILII “
( Ayam Jago Putih Adalah kesayanganku )
Dan dalam hadist riwayat yg lain adalah :
” AD-DIIKU AL-ABYADU SODIQII WA ‘ADUWWU ASY-SYAYTONI, YAHRUSU SOHIBAHU WA SAB’A DUURI KHOLFAHU “
( Ayam jago putih adalah sahabatku dan musuhnya Setan, dia menjaga rumah pemiliknya dan 7 rumah di belakangnya ( tetangga )
Dan dalam hadist yang lain adalah :
“AD-DIIKU AL-ABYADU HABIBII WA HABIBU HABIBII JIBRILA YAHRUSU BAYTAHU WA SITTATA ‘ASYARA BAYTAN MIN JIRONIHI” ( Ayam jago putih merupakan kekasihku dan kecintaannya kekasihku Jibril a.s, Dia menjaga rumah pemiliknya dan 16 rumah tetangganya ).
Rumah anda di ganggu oleh mahluk halus, atau sering kecurian tidak usah panggil pemburu hantu atau Kahin ( dukun ), cukup laksanakan sunnat Rosululloh saw carilah oleh anda Ayam jago Putih Mulus ( Bukan Ayam sayur tapi Ayam kampung, ayam Adu, ayam Afrika ). Diriwayatkan oleh Asy-syeikh Muhibuddin At-Tobary : ” Bahwa sesungguhnya Rosululloh saw mempunyai se-ekor Ayam jago putih dan telah menjadi kebiasaan apabila Rosululloh saw mengadakan suatu perjalanan dengan para sahabat-sahabatnya, Ayam jago putihnya selalu beliau bawa serta agar senantiasa mereka di perjalan mengetahui waktu-waktu sholat dari suara kokoknya ayam tsb.
Di riwayatkan dalam Hadist Shohih yang diriwayat kan oleh : Imam Bukhori, Muslim, At-Turmudzi, An-Nasa’i dari Abu Hurairoh R.A sesungguhnya rosululloh saw bersabda :
“IDZA SAMI’TUM SIYAHA AD-DIIKATI FAS ALULLOHA MIN FADLIHI, FAINNAHA RO AT MALAKAN, WA IDZA SAMI’TUM NUHAQOL HAMIRI FA TA’AWWADZUU BILLAHI MIN ASY SYAITONI, FAINNAHA ROAT SYAITONAN.”
( Apabila kamu sekalian mendengar suara berkokoknya ayam maka berdo’alah miminta pada alloh dari keutamaanya, Karena sesungguhnya Ayam tersebut telah melihat malaikat, Dan apabila kamu sekalian mendengar suara ringkik keledai, Maka berta’udz lah kepada Alloh ( Memohon perlindungan ) dari gangguan setan, Karena sesungguhnya keledai tsb telah melihat Setan).
Di riwayatkan dalam Mu’azzam At-Tobroni dan dalam Tarikh Asbihan dari rosululloh saw , Nabi bersabda :
” Sesungguhnya Alloh S.W.T memiliki se-ekor Ayam jago putih yang ke dua sayapnya dihiasi permata permata Jabarjad, Yaqut dan Mutiara, 1 sayap di Timur dan Sayap yang lainnya di Barat, Kepalanya berada di bawah Arasy dan berdirinya ayam tsb di udara , Ayam tsb senantiasa berkokok mengumandangkan Adzan ditiap waktu sahur, Maka Adzan tersebut terdengar oleh penduduk langit & Penduduk bumi kecuali Manusia dan Jin yang tidak dapat mendengar Adzannya , Maka tatkala Kokok Adzannya berkumandang di jawablah secara bersahutan oleh suara kokok Ayam – Ayam jago yang ada di muka Bumi, maka apabila Hari Qiamat sudah dekat, Alloh S.W.T berfirman pada Ayam tsb ” Kumpulkanlah sayap sayapmu dan rendahkanlah suaramu “, mengetahuilah semua penduduk langit & Bumi kecuali Manusia Jin yang tidak mengetahuinya, Bahwasanya Hari Qiamat sudah dekat.
Di riwayatkan Dalam sebuah Hadist yg di riwayatkan oleh Ats-Tsa’labi R.A telah bersabda Rosululloh S.A.W
TSALASATU ASWATIN YUHIBBUHALLOHU TA’ALA : SAUTU AD-DIIKI, WA SAUTU QORIIL QUR’ANI, WA SAUTUL MUSTAGFIRINA BIL ASHARI.
( 3 Suara yang paling di sukai oleh ALLOH Ta’ala : 1. Suara Kokok ayam jago, 2. Suara pembaca Qur’an, 3. Suaranya orang-orang yang ber Istighfar di waktu sahur.).

Minggu, 15 Januari 2012

Kisah Cinta Khadijah r.a dan Rasulullah SAW


Siapakah khadijah?

Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda, bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.
Banyak pemuda Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya.

Bermimpi melihat matahari turun kerumahnya
Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit, masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya merata kesemua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya.
Mimpi itu diceritakan kepada sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.

Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahwa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.” “Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh. “Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat. “Dari suku mana?” “Dari suku Quraisy juga.” Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?” “Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur. Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai sepupuku?” Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”
Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah senantiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.
Lamaran dari khadijah kepada Rasulullah s.a.w

Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah. Wanita usahawan itu berkata
Khadijah: “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” (Suaranya ramah, bernada dermawan. Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu harga dirinya)
Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang, meskipun agak malu-malu tetapi pasti.
Muhammad SAW: “Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu”

(Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban)
Khadijah: “Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,”. “Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”.(Ia berhenti sejenak, meneliti).
Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandung isyarat
Khadijah: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diinginkan oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya. Kepadanyalah aku hendak membawamu”.

khadijah (Khadijah tertunduk lalu melanjutkan): “Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mau, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.

Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawapan, yang lainnya tak tahu apa yang mau dijawab. Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a.
Rasulullah SAW minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada Pamannya.

Rasulullah SAW: “Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….” Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu.

‘Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim. Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya”.

‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?”

Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah:
Khadijah : “Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW. Kalau ia mau, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak,aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.

Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius. “Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah diketahui oleh sepupumu Waraqah bin Naufal?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau belum cobalah meminta persetujuannya.” “Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran”, Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan karena dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.

‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah “Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “tapi kita harus bermusyawarah dengan Muhammad SAW lebih dulu.”
Khadijah yang cantik

Sebelum diajak bermusyawarah, maka terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan. Utusan peribadi Khadijah itu bertanya:
Nafisah : “Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari isteri?”
Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada.”
Nafisah “Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?”
Rasulullah SAW: “Siapakah dia?” tanya Muhammad SAW.
Nafisah : “Khadijah!” Nafisah berterus terang. “Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!”
Usaha Nafisah berhasil. Ia meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a, menceritakan kesediaan Muhammad SAW. Setelah Muhammad SAW menerimapemberitahuan dari saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih tua daripadanya.

Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan yang utama karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya. Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan bermata jeli. Maka diadakanlah majlis yang penuh keindahan itu.

Hadir Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan resmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempoh untuk berunding dengan wanita yang berkenaan.
Pernikahan Muhammad dengan Khadijah

Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak sepupuku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”. “Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”, ujar Waraqah. “Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.

Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan mas kawin lima ratus dirham. Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan “Ash-Shiddiq”, sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.

Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.a berlangsung pada hari Jum’at, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya bernama ‘Amir bin Asad.
Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut: “Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar. “Begitupun kita memuji Allah SWT Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.

“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscaya ia lebih berat dari mereka sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kawin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.
“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat. “Semoga Allah memberkati pernikahan ini”. Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.

Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau redhai !”

Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan”. (Adh-Dhuhaa: 8)
Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.
Dijamin Masuk Syurga
Khadijah r.a mendampingi Muhammad SAW. selama dua puluh enam tahun, yakni enam belas tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, dan sepuluh tahun sesudah masa kenabian. Ia isteri tunggal, tak ada duanya, bercerai karena kematian. Tahun wafatnya disebut “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).

Khadijah r.a adalah orang pertama sekali beriman kepada Rasulullah SAW. ketika wahyu pertama turun dari langit. Tidak ada yang mendahuluinya. Ketika Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya pada peristiwa turunnya wahyu pertama yang disampaikan Jibril ‘alaihissalam, dimana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk Jibril a.s dalam rupa aslinya, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata:

“Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah SWT yang menguasai diri Khadijah r.a, engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi Pesuruh Allah bagi umat kita. “Allah SWT tidak akan mengecewakanmu. Bukankah engkau orang yang senantiasa berusaha untuk menghubungkan tali persaudaraan? Bukankah engkau selalu berkata benar? Bukankah engkau senantiasa menyantuni anak yatim piatu, menghormati tamu dan mengulurkan bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kemalangan dan musibah?”

Khadijah r.a membela suaminya dengan harta dan dirinya di dalam menegakkan kalimah tauhid, serta selalu menghiburnya dalam duka derita yang dialaminya dari gangguan kaumnya yang masih ingkar terhadap kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan Quraisy. Layaklah kalau Khadijah r.a mendapat keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain yaitu, menerima ucapan salam dari Allah SWT. yang disampaikan oleh malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah SAW. disertai salam dari Jibril a.s peribadi untuk disampaikan kepada Khadijah radiallahu ‘anha serta dihiburnya dengan syurga.

Kesetiaan Khadijah r.a diimbangi oleh kecintaan Nabi SAW kepadanya tanpa terbatas. Nabi SAW pernah berkata: “Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim, isteri Fir’aun”.
Wanita Terbaik
Sanjungan lain yang banyak kali diucapkan Rasulullah SAW. terhadap peribadi Khadijah r.a ialah: “Dia adalah seorang wanita yang terbaik, karena dia telah percaya dan beriman kepadaku di saat orang lain masih dalam kebimbanga, dia telah membenarkan aku di saat orang lain mendustakanku; dia telah mengorbankan semua harta bendanya ketika orang lain mencegah kemurahannya terhadapku; dan dia telah melahirkan bagiku beberapa putera-puteri yang tidak ku dapatkan dari isteri-isteri yang lain”.
Putera-puteri Rasulullah SAW. dari Khadijah r.a sebanyak tujuh orang: tiga lelaki (kesemuanya meninggal di waktu kecil) dan empat wanita. Salah satu dari puterinya bernama Fatimah, dinikahkan dengan Ali bin Abu Thalib, sama-sama sesuku Bani Hasyim. Keturunan dari kedua pasangan inilah yang dianggap sebagai keturunan langsung dari Rasulullah SAW.
Perjuangan Khadijah

Tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum lelaki Quraisy, maka di sampingnya berdiri dua orang wanita. Kedua wanita itu berdiri di belakang da’wah Islamiah, mendukung dan bekerja keras mengabdi kepada pemimpinnya, Muhammad SAW : Khadijah bin Khuwailid dan Fatimah binti Asad. Oleh karena itu Khadijah berhak menjadi wanita terbaik di dunia. Bagaimana tidak menjadi seperti itu, dia adalah Ummul Mu’minin, sebaik-baik isteri dan teladan yang baik bagi mereka yang mengikuti teladannya.

Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua Hira’. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi SAW berdoa (memohon) kepada Tuhannya. Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang menolongnya dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya sarat dengan kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa.”

Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini, padahal di hadapan kita ada “wanita terbaik di dunia,” Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mu’minin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik dengan suami dan membantunya di waktu berkhalwat sebelum diangkat menjadi Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.

Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya, dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan keluarga. Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan sebaik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam istananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hidupnya.
Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata :”Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan.” [HR. Bukhari dalam "Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata:"Keshahihannya telah disepakati."]

Bukankah istana ini lebih baik daripada istana-istana di dunia, hai, orang-orang yang terpedaya oleh dunia ? Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang Mu’min yang orang pertama yang beriman kepada Allah di bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah r.a. membawa panji bersama Rasulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri di belakang suami dan Nabinya hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita.
Betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung Nabi SAW sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepadanya pertama kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat-ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian dia menampakkan diri di jalannya, antara langit dan bumi. Dia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri sehingga Nabi SAW melihatnya, lalu dia berhenti, tidak maju dan tidak mundur. Semua itu terjadi ketika Nabi SAW berada di antara jalan-jalan gunung dalam keadaan kesepian, tiada penghibur, teman, pembantu maupun penolong.

Nabi SAW tetap dalam sikap yang demikian itu hingga malaikat meninggalkannya. Kemudian, beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihatnya. Ketika melihatnya, Khadijah berkata :”Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah, kemudian kembali kepadaku.” Maka Rasulullah SAW menceritakan kisahnya kepada Khadijah r.a.
Khadijah r.a. berkata :”Gembiralah dan teguhlah, wahai, putera pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini.” Nabi SAW tidak mendapatkan darinya, kecuali pe neguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan dukungan bagi urusannya. Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menyedihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau penghindaran darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan urusannya. Demikian hendaknya wanita ideal.

Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah mengirim salam kepadanya. Maka turunlah Jibril A.S. menyampaikan salam itu kepada Rasul SAW seraya berkata kepadanya :”Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :”Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu.” Maka Khadijah r.a. menjawab :”Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan).”

Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun di antara para shahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a. pada saat pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung da’wah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah yang besar bagi Rasulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolong- nya dengan jiwa dan hartanya.

Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia.” [HR. Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya, 6/118]
Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :”Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :”Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan.” [Shahih Bukhari, Bab Perkawinan Nabi SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya, 1/539]

rujukan:Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW karangan Muhammad Ibrahim Saliim

Kamis, 12 Januari 2012

Mas kahwin Fatimah

Ketika Allah memerintahkan Rasulullah untuk mencarikan suami bagi anaknya, Rasulullah memanggil semua sahabatnya tanpa sebarang diskriminasi.

“Allah memerintahkan aku untuk memberitahu kamu bahawa sesiapa yang mampu membaca seluruh Al-Qur’an pada malam, ini boleh menikahi puteriku, Fatimah, jika dia menerimanya,” kata Rasulullah.

Malam itu, semua sahabat berusaha menyelesaikan seluruh bacaan Qur’an, kecuali Ali bin Abi Talib yang pulang ke rumah untuk tidur. Ketika Bilal mengumandangkan azan subuh, semua orang berkumpul di masjid termasuk Rasulullah saw.

Ketika Nabi menanyakan siapa yang sudah menyelesaikannya, tidak seorangpun menjawabnya, kerana amat susah menamatkan 30 juz dalam waktu 7-8 jam saja. Namun Ali bin Abi Talib berkata, “Ya Rasulullah saw, aku telah menamatkan seluruh Al-Quran semalam.”

Sahabat-sahabat yang lain melihat ke arah Ali dengan hairan. “Bagaimana kamu menyelesaikannya? Bukankah kamu tidur semalaman,” tanya salah seorang dari mereka.

“Tidak, aku memang menyelesaikannya,” Ali menjawab.

“Siapa saksimu, Ali?” soal Rasulullah saw.

“Allah adalah saksiku dan engkau, ya Nabi saw adalah juga saksiku,” Ali menjawab ringkas.

“Aku membaca ‘Laa ilaha ill Allah, Muhammad Rasulullah’ sebanyak 3 kali, Astaghfirullah (70 kali), Surah Al Fatihah (1 kali), Surah Al Ikhlas (3 kali), Surah Al Falaq (1 kali), Surah An Naas (1 kali), Laa ilaha ill Allah (10 kali), dan Selawat Nabi ‘Allahumma solli alaa Muhammadin wa alaa ali muhamaddin wa salim’ sebanyak 10 kali,” Ali menyambung.

“Sebagaimana Allah memberi kesaksian, aku juga memberi kesaksian bahwa Ali telah menyelesaikan seluruh bacaan Qur’an. Jika kamu membaca seperti apa yang dibaca oleh Ali, sama seperti dia membaca 30 juzuk Al Qur’an,” kata Rasulullah saw.

“Fatimah, apakah engkau menerima Ali sebagai suamimu?” Rasulullah saw. bertanya pada puterinya.

“Dengan satu syarat,” Fatimah menjawab.

Semua sahabat mulai memandang pada Ali, Fatimah dan kemudian kepada Nabi. Ketika Nabi saw berfikir mengapa Fatimah mengajukan syarat itu, malaikat Jibril turun dan berkata pada beliau, “Wahai Nabi, jangan tergesa-gesa mengambil keputusan, Allah Yang mengatakan padamu untuk menanyakan syarat apa yang ingin dia ajukan.”

“Apa syaratmu, Fatimah ?” tanya Rasulullah saw.

“Syarat itu bukan untuk Ali, tapi dari diriku sendiri. Jika ini dipenuhi, maka aku menerimanya. Jika tidak, aku menolak untuk menikah dengan Ali” jawab Fatimah.

Kemudian Jibril mengingatkan Rasulullah saw. akan pesan Allah untuk menanyakan apa syarat yang diinginkannya.

“Sekarang dengarkan apa yang Allah letakkan pada hati Fatimah, sebagai manfaat dan darjat para wanita dalam kerohanian, ” kata Jibril

“Apa syaratmu, Fatimah?” sekali lagi Nabi bertanya

“Aku selalu mendengarmu berdoa bagi umatmu siang dan malam. Engkau mengatakan Ya Allah, izinkan aku memimpin umatku untuk-Mu! Ampuni mereka ! Sucikan mereka! Angkatlah semua dosa-dosa, kesulitan dan beban-beban mereka!” jawab Fatimah,

“Aku mendengarmu ya Rasulullah, dan melihat bagaimana engkau menderita demi umatmu. Dari apa yang engkau tuturkan, aku tahu bahwa ketika wafat, dalam kubur, dan kiamat nanti engkau akan selalu menyebut, Umatku..Umatku ! Pada Allah. sebagaimana cintamu pada umatmu seperti itu juga yang ada dalam hatiku. Aku ingin seluruh umatmu sebagai mas kahwinku. Jika engkau menerimanya, aku bersedia menikah dengan Ali,” sambung Fatimah sebagai menyatakan keinginannya.

Apa yang diminta oleh Fatimah adalah seluruh umat Nabi, semua tanpa terkecuali sebagai mas kahwinnya. Oleh itu kerana ia tidak terletak ditangannya, Rasulullah perlu menunggu kedatangan Malaikat Jibril yang lama tidak juga menampakkan dirinya.

“Allah menyampaikan Assalamu'alaikum kepadamu dan menerima permintaan Fatimah. Allah swt menganugerahan apa yang dimintanya sebagai mas kahwin untuk bernikah dengan Ali,” kata Jibril ketika dia datang.

Segera Nabi berdiri dan mengerjakan solat 2 rakaat sebagai rasa syukur pada Allah swt. Fatimah ternyata mementingkan pengorbanannya bagi umat Nabi saw. Tidak seorang umat pun yang akan berada diluar mas kahwin Fatimah, kerana jika Allah menarik satu umat dari mas kahwin itu, maka pernikahannya dengan Ali dianggap tidak sah.

Nama Isteri Nabi Muhammad

1.Khadijah binti Khuwailid
Dinikahi oleh Nabi Muhammad ketika Nabi berusia 25 tahun manakala Khadijah 40 tahun. Mahar kahwinnya sebesar 12.5 uqiah emas. Sehingga Khadijah meninggal dunia, Nabi Muhammad tidak mengahwini wanita lain. Dia meriwayatkan sebuah hadis sahaja.

2.Saudah binti Zam’ah

Dinikahi oleh Nabi Muhammad pada tahun kesepuluh selepas kenabian. Sebelumnya, Saudah isteri kepada sepupunya sebelum bercerai. Nabi Muhammad pernah mahu menceraikannya ketika menikahi Aisyah tetapi dia tidak melakukannya. Dia meninggal dunia semasa Umar al-Khattab menjadi khalifah

3.Aisyah binti Abu Bakar Al-Siddiq

Dinikahi oleh Nabi Muhammad di Mekah ketika berusia enam tahun dan hidup bersama ketika berusia sembilan tahun. Mas kahwinnya bernilai 400 dirham. Merupakan isteri yang paling di cintai oleh Nabi Muhammad. Dia meriwayatkan 1210 hadis dan meninggal dunia ketika berusia 57 tahun. Jenazahnya disembahyangkan oleh Abu Hurairah dan dikebumukan di al-Baqi’ pada waktu malam

4.Hafsah binti Umar
Dinikahi pada bulan Syaaban, kira-kira 30 bulan selepas hijrah. Bapanya ialah Umar bin Khattab, manakala ibunya ialah Zainab binti Mazh’un. Hafsah dilahirkan lima tahun sebelum kenabian dan dinikahi dengan mahar sebanyak 400 dirham. Dia meriwayatkan sebanyak 60 hadis. Meninggal dunia pada bulan Syaaban, 45H. Jenazahnya disolatkan oleh Marwan bin al-Hakam, Gabenor Mekah pada waktu itu.

5.Zainab binti Khuzaimah
Dinikahi pada tahun ketiga hijrah dengan mahar sebanyak 400 dirham. Dua tiga bulan selepas bernikah, dia meninggal dunia pada usia 30 tahun. Jenazahnya disolatkan oleh Nabi Muhammad dan dikebumikan di al-Baqi’.

6.Hindun binti Abu Umaymah bin al Mughirah

Bernikah dengan Nabi pada akhir bulan Syawal tahun keempat Hijrah (ada yang mengatakan tahun kedua). Anaknya sendiri yang menikahkannya dengan Nabi sekaligus menunjukkan bahawa anak boleh menjadi wali pernikahan ibunya. Namun ini dikatakan bertententangan dengan Mazhab Syafie. Hindun meriwayatkan 328 hadis. Dia meninggal dunia pada zaman pemerintahan Yazid bin Muawiyah pada tahun 60H ketika berusia 84 tahun. Dia dikebumikan di al-Baqi’.

7.Zainab binti Jahsy

Zainab merupakan hamba kepada Umaymah binti Abdul Muthalib. Nabi menikahkannya dengan Yazid bin Harithah. Setelah Yazid menceraikannya, Nabi menikahi Zainab pada tahun ke-5H dengan mahar 400 dirham. Ketika itu Zainab berusia 35 tahun. Zainab meriwayatkan 10 hadis dan meninggal dunia pada tahun ke-20H ketika berusia 53 tahun. Jenazahnya di solatkan oleh Umar al-Khattab dan dikebumikan di al- Baqi’

8.Juwairiyah binti al-Harith
Juwairiyah ialah dari Bani Musthaliq. Dia merupakan hamba kepada Tsabit bin Qays. Nabi membelinya dari Tsabit, meemrdekakannya dan menikahinya dengan mahar 400 dirham. Juwairiyah meriwayatkan 7 hadis dan meninggal dunia di Madinah pada bulan Rabiulawal 56H ketika berusia 70 tahun. Jenazahnya disolatkan oleh Marwan bin al-Hakam.

9.Rayhanah binti Yazid

Rayhanah ialah dai Bani Nadhir. Dia adalah antara tawanan Bani Quraizah yang kemudiannya dipilih oleh Nabi bagi menjadi isterinya. Rayhanah seorang yang cantik dan berakhlak mulia. Apabila menjadi tawanan dia diberi pilihan sama ada mahu memeluk Islam atau tetap dengan agamanya. Dia memilih Islam lalu dimerdekakan dan dinikahi oleh Nabi pada tahun ke-6H. Dia pernah diceraikan oleh Nabi kemudian rujuk semula. Dia meninggal dunia apabila Nabi pulangdari haji wida’ dan dikebumikan di al Baqi’

10.Umm Habibah binti Ramlah

Nabi mengutuskan Amr bin Umayyah ke Najasyi untuk menikahi Umm Habibah. Raja Najasyi memberikan mahar sebanyak 400 dinar. Khalid bin Said menjadi wali Umm Habibah kerana dia merupakan anak pakciknya. Raja Najasyi kemudian membawanya kepada Nabi pada tahun ke-7H. Dia meninggal dunia pada tahun 44H

11.Safiyyah binti Hayyi

Safiyyah bukan berbangsa Arab. Dia dari bani Nadhir, dari bani Israil dan berketurunan Harun bin Imran. Bapanya merupakan seorang tokoh bani Nadhir yang berperang melawan bani Quraizah. Dia menjadi tawanan ketika perang Khaibar dan dipilih sendiri oleh Nabi dan dinikahinya selepas dia merdeka. Pembebasannya itu dijadikan sebagai mahar. Dia seorang yang cantik dan ketika itu belum berusia 17 tahun. Safiyyah meriwayatkan 10 hadis dan meninggal dunia dalam bulan Ramadhan tahun ke-50H (ada yang mengatakan 52H). Dia dikebumikan di al Baqi’

12.Maimunah binti al Harith

Asalnya dia bernama Barrah dan Nabi memberi nama Maimunah. Ibunya bernama Hindun binti Awf bin Zuhayr. Maimunah meriwayatkan 76 hadis. Dia meninggal dunia ketika berusia 80 ahun pada tahun 51H. Dia ialah isteri terakhir yang Nabi nikahi dan paling akhir meninggal dunia.

Siti Khadijah isteri Rasulullah

DAN setengah daripada tanda-tanda kebesaran-Nya bahawa Dia ciptakan untuk kamu daripada dirimu sendiri akan isteri-isteri, agar tenteramlah kamu kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kamu cinta dan kasih sayang.Sesungguhnya pada yang demikian adalah tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (ar-Rum: 21)
 
SITI Khadijah merupakan seorang wanita yang berasal daripada suku kaum Asadiyah, iaitu satu keturunan Quraisy yang amat dihormati dan disegani.  Beliau dilahirkan pada tahun 68 sebelum hijrah iaitu 15 tahun sebelum tahun gajah, tahun kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibu bapanya dengan penuh kasih sayang serta diberikan tarbiah yang sempurna.

Pendidikan dan tunjuk ajar oleh ibu bapanya diterima dengan patuh dan taat, sehingga beliau tampil sebagai seorang wanita budiman dan berakhlak luhur serta tidak pernah bangga atau sombong dengan taraf kebangsawanannya. Kaumnya memanggil beliau dengan gelaran Al-Tahirah yang bermaksud perempuan suci. Sebelum berkahwin dengan Rasulullah, beliau pernah berkahwin dua kali, tetapi kedua-dua suaminya telah meninggal dunia. Ketika berkahwin dengan baginda, umur beliau ialah 40 tahun, manakala umur baginda 25 tahun.

Walaupun berbeda usia 15 tahun, tetapi rumah tangga mereka penuh dengan kedamaian dan ketenteraman, aman bahagia dan tidak pernah berselisih faham terhadap sesuatu masalah.

Beliau juga merupakan Ummul Mukmin pertama yang mempunyai keistimewaan-keistimewaan yang tersendiri, berbeda dengan isteri-isteri baginda yang lain. Beliau bukan sahaja wanita yang jelitawan tetapi mempunyai harta kekayaan dan tergolong di antara orang-orang yang ternama di Mekah.

Beliau sangat pandai mentadbir perniagaannya sehingga berjaya sampai ke Yaman dan Syam. Beliau pernah menyerahkan urusan perniagaannya kepada baginda kerana percaya dengan kejujuran baginda. Sehinggalah sampai suatu ketika beliau jatuh cinta dengan kebaikan dan kelembutan Rasulullah, lalu menyatakan hasrat untuk menikahi baginda.

Beliau hidup bersama Rasulullah selama 24 tahun. Sepanjang menjadi isteri baginda, beliau menjadi suri rumah tangga dan kekal menjadi satu-satunya isteri baginda sehinggalah beliau meninggal dunia. Beliau telah melahirkan enam orang anak sedangkan isteri-isteri baginda yang kemudian tidak seorangpun yang melahirkan anak sepertinya.

Beliau juga menanggung berbagai-bagai penderitaan bersama-sama Rasulullah dalam usaha berdakwah dan menyeru kepada Islam. Ketika dua orang anak lelakinya iaitu Kasim dan Abdullah meninggal dunia, beliau bersama dengan baginda berdukacita menangisi pemergian anak-anaknya itu.

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah untuk pergi ke Gua Hira kerana ingin bertafakur dan bermunajat kepada Allah seorang diri. Setiap kali baginda ke sana, baginda akan membawa sedikit bekalan yang disediakan oleh isterinya, Siti Khadijah. Apabila makanan sudah habis, baginda turun semula ke Mekah dan tawaf di Kaabah sebanyak tujuh pusingan, kemudian barulah kembali menemui isteri tercinta. Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah, berulang alik dalam tempoh masa lebih kurang lima tahun di Gua Hira.

Sungguhpun demikian, Siti Khadijah tidak pernah berasa kecil hati terhadap Rasulullah. Malah, beliau berusaha agar baginda lebih memperoleh ketenangan dalam bermunajat kepada Allah. Oleh yang demikian, apabila Rasulullah pulang ke rumah, beliau tidak pernah mengeluh apatah lagi bermasam muka. Beliau melayani suaminya dengan baik, penuh hormat dan kasih sayang.
Begitulah tanggungjawab sebagai seorang isteri yang taat dan setia kepada suami sehinggalah beliau meninggal dunia dalam usia 64 tahun dan enam bulan. Semenjak pemergian Siti Khadijah, Rasulullah sangat sedih dan murung kerana begitu terasa kehilangan seorang kawan, teman, isteri, pembantu dan pembela ketika baginda menjalankan seruan Allah.

Nama Lengkapnya Siti Khadijah iaitu Siti Khadijah binti Khuwalid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai, yang tergolong daripada golongan bangsawan dan ternama di Mekah.
Petikan daripada buku Untaian 366 Kisah Daripada al-Quran,